Media Belitung

BELITUNG, NgulakNgalik.com – Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan (BKSDA Sumsel) kembali melakukan pelepasliaran satwa liar.

Kegiatan pelepasliaran satwa ini dilakukan di areal Hutan Kemasyarakatan (HKm) Seberang Bersatu, Desa Juru Seberang, Kecamatan Tanjungpandan, Kabupaten Belitung pada tanggal 25 November 2021. Satwa liar yang dilepasliarkan adalah jenis Elang Bondol (Haliastur indus) sebanyak 2 (dua) ekor.

Kegiatan yang telah menjadi agenda rutin BKSDA Sumsel ini merupakan dukungan terhadap program Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KHLK) dalam rangka melestarikan satwa liar milik Negara.

Elang Bondol (Haliastur indus) tersebut telah melalui proses rehabilitasi di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Alobi sesuai dengan Berita Acara Penitipan Nomor BAP.106/K.12/TU/KSA/1/2019 tanggal 19 Januari 2019.

Asal-usul Elang Bondol (Haliastur indus) berasal dari serahan masyarakat di Kota Palembang dan diangkut ke PPS Alobi pada tahun 2019 sebagai titipan negara untuk dirawat sesuai peraturan perundang – undangan yang berlaku.

Satwa liar jenis Elang Bondol (Haliastur indus) tersebut dinyatakan sehat dan layak untuk dilepasliarkan melalui Surat Keterangan Kesehatan Hewan Nomor 075/SKKH/LK-PPS/XI/2021 tanggal 13 November 2021.

Pada kesempatan terpisah, Kepala BKSDA Sumsel Ujang Wisnu Barata, menyampaikan bahwa

“Kegiatan pelepasliaran ini khusus dilaksanakan di Kabupaten Belitung yang merupakan salah satu wilayah kerja BKSDA Sumsel. Agenda rutin pelepasliaran satwa ini merupakan salah satu upaya BKSDA Sumsel dalam mendukung program KLHK bertemakan “Living in Harmony with Nature : Melestarikan Satwa Milik Negara,” ujar Kepala BKSDA Sumsel Ujang Wisnu Barata.

Kegiatan ini juga merupakan salah satu rangkaian peringatan Hari Satwa dan Puspa Nasional. Kegiatan ini tidak hanya penting bagi lingkungan secara ekologi namun juga sebagai media kampanye dan edukasi kepada masyarakat luas agar tumbuh kesadaran bahwa melestarikan satwa perlu proses panjang dengan prinsip Rescue, Rehab, dan Release.

Apresiasi diberikan kepada para pihak yang terlibat dalam kegiatan pelepasliaran satwa ini diantaranya adalah Pemerintah Kabupaten Belitung, Balai Karantina Pertanian Kelas II Pangkalpinang, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bangka Tengah, KPHL Belantu Mendanau, PT. Timah Tbk, PT. PLN (Persero), HKm Seberang Bersatu, dan Yayasan Alobi.

Dalam sambutannya, Bupati Kabupaten Belitung Bapak Sahani Saleh, S.Sos, menyampaikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada BKSDA Sumsel, Balai Karantina Pertanian Kelas II Pangkalpinang, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bangka Tengah, KPHL Belantu Mendanau, PT. Timah Tbk, PT. PLN (Persero), HKm Seberang Bersatu, dan Yayasan Alobi yang telah mengadakan kegiatan pelepasliaran satwa di lokasi Geosite HKm Seberang
Bersatu.

HKm Seberang Bersatu memiliki luas 757 Ha yang sebelumnya merupakan areal bekas tambang Timah di kawasan Hutan Lindung Pantai Juru Seberang. HKm Seberang Bersatu merupakan Geosite yang telah diakui oleh UNESCO atas tingginya upaya masyarakat terhadap pemulihan kawasan bekas tambang Timah. Terdapat 65 jenis Mangrove di Kabupaten Belitung yang rencananya akan ditanam di kawasan HKm Seberang Bersatu dan
menjadi media edukasi bagi masyarakat luas.

H. Sahani Saleh berharap dengan adanya kegiatan ini kedepannya dapat dilakukan kegiatan yang berhubungan dengan pelestarian lingkungan lainnya di Kabupaten Belitung.” (ril)

, , , , , , , , ,