Ilustraai Video Call Telanjang. (Foto : Ist)

BELITUNG, NGULAKNGALIK.COM | Andi Wijaya Saputra terdakwa perkara ITE dan Pornografi divonis majelis hakim PN Tanjungpandan kurungan selama 9 tahun penjara, Rabu (29/9/2021).

Selain itu, pria 30 tahun tersebut juga harus menjalani hukuman tambahan selama 6 bulan penjara apabila tidak membayar denda sebesar Rp 250 juta. Vonis tersebut lebih ringan dari tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) Kejari Belitung yang menuntut terdakwa 10 tahun kurungan penjara.

Dalam amar putusannya, majelis hakim yang diketuai Andhika Bhatara didampingi hakim anggota Syafitri Apriyuani dan Elisabeth Juliana menyatakan, perbuatan terdakwa sudah memenuhi unsur sebagaimana dakwaan campuran akumulatif primair tentang ITE dan Pornografi.

Hal tersebut berdasarkan fakta-fakta hukum selama proses persidangan yang telah dijalani mulai dari keterangan para saksi, saksi ahli, dan keterangan terdakwa.

Hal-hal yang memberatkan perbuatan terdakwa membuat korban sebut saja Mawar merasa trauma, terdakwa pernah dihukum, berbelit-belit dalam persidangan. Sedangkan hal yang meringankan, terdakwa mengakui perbuatannya dan menyesal.

“Memerintahkan barang bukti berupa screenshot percakapan, serta handphone atau flashdisk dirampas untuk dimusnahkan. Membebankan biaya perkara kepada terdakwa sebesar 5 ribu rupiah,” ucap Andhika Bhatara sembari mengetuk palu.

Pasca mendengan pembacaan putusan itu, terdakwa langsung menerima vonis yang dijatuhkan. Sedangkan JPU Kejari Belitung menyatakan pikir-pikir selama tujuh hari.

Sebelumnya diberitakan, Penyidik Satreskrim Polres Belitung melimpahkan berkas perkara tersangka AW alias Ad (30) dalam kasus ITE ke Kejaksaan Negeri Belitung, Jumat (11/6/2021).

Pasalnya berkas perkara duda yang berprofesi sebagai buruh harian tersebut sudah dinyatakan lengkap. Penyidik juga membawa barang bukti berupa print out chat WhatsApp antara tersangka dengan korban.

Sedangkan tersangka diamankan tim Resmob Satreskrim Polres Belitung pada Maret 2021 lalu. Sebelumnya, korban sebut saja Bunga melaporkan kejadian pengancaman tersebut ke Mapolres Belitung.

“Ya sudah kita terima, dia sudah resmi menjadi tahanan jaksa. Untuk sementara kami titipkan ke sel Mapolres Belitung sampai proses persidangan,” kata Jaksa Penuntut Umum Kejari Belitung Tri Agung Santoso, Jumat (11/6/2021).

Kronologis kejadian bermula saat tersangka berkenalan dengan Bunga yang merupakan warga Kabupaten Belitung. Perkenalan keduanya dimulai Januari 2021 lalu melalui media sosial Facebook.

Saat berkenalan dengan korban, tersangka mengaku sebagai anggota. Kemudian komunikasi antara keduanya berjalan dan keduanya saling bertukar nomor telepon WhatsApp.

“Jadi setelah komunikasi jalan, tersangka mulai men-screenshot obrolan WhatsApp dengan korban. Karena tersangka mengetahui korban sudah mempunyai suami,” kata Tri Agung Santoso.

Tersangka meminta video call dengan korban tanpa busana dengan cara mengancam korban dengan berdalih akan memberi tahu sang suami dan menyebarkan obrolan WhatsApp berisikan tidak senonoh yang telah terjalin selama ini ke media sosial.

“Jadi karena merasa takut, korban menuruti kemauan tersangka untuk video call tanpa busana (telanjang). Tanpa sepengetahuan korban, tersangka ternyata merekam video call korban menggunakan layar,” beber Tri Agung Santoso

Pasca merekam video tersebut, selang beberapa hari, tersangka mengajak korban bertemu. Tersangka kembali mengancam apabila menolak video tanpa busana korban yang direkam akan disebarluaskan.

Korban menuruti kemauan tersangka untuk bertemu. Pasca bertemu, korban meminta kepada tersangka agar menghapus video itu. Namun tersangka menolak dan meminta korban agar melakukan hubungan seperti dibahas dalam obrolan WhatsApp.

“Tapi berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan tadi. Tersangka bersikukuh tidak mengaku melakukan hubungan seperti yang dibahas dalam obrolan sebelum bertemu. Karena posisi alat vitalnya tidak mau hidup,” ujar Tri Agung Santoso.

Sumber : One Klik News 

, , , , , , , , , , ,